April 2, 2013

Diare Akibat Antibiotik


Taukah Tweeps, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mencetuskan terjadinya diare. Ini disebut antibiotic associated diarrhea (AAD) / diare akibat penggunaan antibiotik.

Antibiotic associated diarrhea (AAD) adalah diare yang terjadi setelah penggunaan antibiotik. Dapat terjadi beberapa jam sampai 2 bulan setelah penggunaan antibiotik. Penyebabnya adalah infeksi Clostridium difficile.

Penggunaan antibiotik yang sering, tidak tepat indikasi dan jangka panjang dapat menyebabkan pertumbuhan yang berlebih dari Clostridium difficile.  Akibatnya terjadi infeksi oleh bakteri ini yg salah satu gejalanya ditandai dengan terjadinya diare.

Clostridium difficile adalah bakteri anaerob gram positif yang secara alami ditemukan di usus. Pertumbuhannya dapat berlebih karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengganggu keseimbangan flora normal (bakteri baik) dalam usus. Bakteri baik mati, bakteri jahat seperti Clostridium difficile akan tumbuh subur. Dengan perantaraan toksin (racun) yang dihasilkan, bakteri ini bisa menginfeksi saluran cerna.

Bukti-bukti terbaru menunjukkan peningkatan insiden infeksi Clostridium difficile pada populasi berusia lebih muda. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Cade Nylund dari Uniformed Services University of The Health Sciences di Bethesda menyebutkan kasus infeksi Clostridium difficile pada anak-anak meningkat 15 % selama 10 tahun terakhir (1997-2006).

Dr. Cade mengatakan bahwa jika anak-anak terserang bakteri ini, mereka lebih cenderung meninggal atau mungkin harus dioperasi. Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan amak-anak dengan infeksi Clostridium difficile mengalami 1,2 kali lebih mungkin meninggal saat dirawat di RS dibanding kasus lain. Mereka juga 4,3 kali lebih mungkn tinggal di RS lebih lama dan sekitar 1,4 kali mungkin memerlukan operasi kolektomi.

Menurut para peneliti, peningkatan resep antibiotik pada anak-anak dapat menjelaskan tren ini. Diare akibat penggunaan antibiotik dapat terjadi pada sekitar 5 - 25 % pasien dewasa dan 11 - 40 % pasien anak-anak yang mendapat antibiotik spektrum luas.

Diare karena infeksi Clostridium difficile akibat penggunaan antibiotik dapat terjadi sebanyak 5 – 10 % pada penggunaan ampicillin, 10 - 25 % pada penggunaan amoxicillin-clavulanat, 15 – 20 % pada penggunaan cefixime dan 2 – 5 % pada penggunaan cephalosporin, fluoroquinolone, azitromycin, clarithromycin, erythromycin dan tetrasiklin.

Berbagai guideline menyebutkan, tindakan pertama mengatasi infeksi Clostridium difficile adalah menghentikan penggunaan antibiotik. Untuk kasus-kasus (diare) ringan, cara ini bisa membuat pasien rekoveri penuh. Untuk kasus yang lebih berat, diperlukan terapi antibiotik yang sensitif terhadap Clostridium difficile, misalnya metronidazole, dll.

Jadi, mari gunakan antibiotik dengan tepat. Jangan terlalu ringan tangan meresepkan antibiotik terutama pada bayi dan anak-anak. Jangan biarkan pasien membeli antibiotik secara bebas tanpa resep. Untuk pasien, jangan coba-coba swamedikasi (pengobatan sendiri) dengan antibiotik tanpa dasar yang jelas.

Semoga bermanfaat :)


Referensi : Ethical Digest Maret 2013

February 23, 2013

Sirup Antibiotik Harus Dihabiskan ?




Taukah Bunda? Antibiotik dalam bentuk sirup tidak selalu harus dihabiskan loh ...
Kok bisa ? Bukankah setiap penggunaan antibiotik harus dihabiskan ?

Betul, pernyataan tersebut memang tidak salah. Antibiotik, terutama dalam bentuk sediaan tablet maupun puyer, memang harus diminum sampai habis sesuai dengan jumlah obat yang diterima pada saat menebus resep. Hal ini untuk memastikan bakteri telah benar-benar mati sehingga memperkecil kemungkinan resistensi obat di kemudian hari.

Namun khusus untuk antibiotik sediaan sirup, ada alasan tertentu mengapa pernyataan 'minum antibiotik harus dihabiskan' tidaklah selalu tepat.

Penggunaan antibiotik dalam bentuk sirup sangat ditentukan oleh faktor-faktor berikut :

  1. Berat Badan (BB) anak. Pemberian antibiotik sirup pada anak harus berdasarkan perhitungan dosis yang disesuaikan dengan berat badan anak. Dosis yang tepat menentukan efektif atau tidaknya terapi antibiotik.
  2. Lama pemakaian. Selain dosis, berapa hari lamanya antibiotik harus diminum, juga merupakan faktor penentu keberhasilan eradikasi (pemusnahan) bakteri pada kasus infeksi. 
  3. Isi mililiter sirup. Penting untuk menentukan apakah sirup antibiotik perlu dihabiskan atau tidak.

Ketiga faktor inilah yang menentukan apakah sirup antibiotik perlu diminum sampai habis atau tidak.

Perhatikan ilustrasi berikut supaya pernyataan di atas lebih mudah dipahami.

Anak A usia 19 bulan, berat badan 12 kg
Oleh dokter diberikan antibiotik Cefixime dengan dosis 3 mg/kgBB untuk pemakaian selama 3 hari.

Perhitungan dosis :


Dosis lazim Cefixime pada anak < 30 kg adalah 1,5 - 3 mg / kgBB setiap kali minum, digunakan 2 kali sehari.

Cefixime yang dibutuhkan setiap kali minum = 3 x 12 = 36 mg.
Pemakaian sehari = 36 mg x 2 = 72 mg.
Pemakaian untuk 3 hari = 3 x 72 mg = 216 mg

Sirup Cefixime yang tersedia di pasaran mengandung 100 mg Cefixime dalam setiap 5 ml-nya (contohnya Cefspan Sirup, Sporetik, Cefila, dll)
Kebanyakan pabrik obat menyediakan sirup Cefixime dalam kemasan botol 30 ml.
Artinya, dalam botol 30 ml sirup Cefixime yang telah dilarutkan oleh apotek, mengandung 600 mg Cefixime.
Padahal Anak A hanya membutuhkan 216 mg Cefixime.

Apa jadinya jika Anak A meminum sampai habis seluruh isi botol sirup Cefixime 30 ml (yang mengandung 600 mg Cefixime) padahal ia hanya membutuhkan Cefixime sebanyak 216 mg ?

Yup. OVERTREATMENT !!!

Jadi, khusus penggunaan sirup antibiotik pada anak, PENTING untuk mengikuti aturan pakai yang tertera di etiket botol. Jika instruksinya adalah untuk pemakaian 3 hari, ya minum antibiotik selama 3 hari saja, jangan  dihabiskan meski ada sisa sirup.

Jika instruksinya untuk pemakaian 3 hari tapi sirup antibiotik malah dihabiskan, justru yang terjadi adalah over treatment seperti contoh ilustrasi di atas. Pastikan baca aturan pakai dengan benar.

Saat menebus obat antibiotik sirup, biasakan cek aturan pakai yang tertera di etiketnya sebelum meninggalkan apotek. Jika bingung apakah antibiotik sirup harus dihabiskan atau tidak, tanyakan pada Apoteker.


Sisa Sirup Boleh Disimpan ?

Tidak. Sisa sirup antibiotik tidak untuk disimpan loh, apalagi dipakai lagi untuk sakit yang akan datang. Mengapa? Karena antibiotik tidak stabil dalam cairan untuk jangka waktu lama.

Itu sebabnya obat antibiotik untuk anak banyak dibuat dalam bentuk sirup kering, yang baru dicampur air saat akan digunakan. Karenanya sirup antibiotik tidak boleh disimpan. Buang segera sisa antibiotik sirup begitu anak dinyatakan sembuh.


February 11, 2013

Menyikapi Obat Puyer




Definisi penggunaan obat yang rasional (Rational Use of medicine / RUM) oleh WHO secara jelas mempersyaratkan 5 poin yang harus dipenuhi dalam peresepan / penggunaan obat.
5 prinsip itu yaitu :
1. Tepat pasien
2. Tepat indikasi
3. Tepat obat
4. Tepat cara pemberian obat, frekuensi dan lama pemberian obat
5. Tepat biaya

Sedangkan penggunaan obat yang tidak rasional (Irrational Use of Drug / IRUD) ditandai dengan ciri-ciri :
1. Tidak ada atau kecil kemungkinan untuk memberikan manfaat.
2. Kemungkinan efek samping lebih besar dari manfaat.
3. Biaya terapi tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh.

WHO mencatat Polifarmasi adalah salah satu bentuk penggunaan obat tidak rasional / IRUD yang paling sering terjadi. Polifarmasi adalah penggunaan obat lebih dari 3 jenis obat untuk satu pasien.

Puyer Pintu Gerbang Polifarmasi

Puyer adalah bentuk polifarmasi yang paling sering terjadi dalam peresepan obat-obat untuk pasien anak karena obat puyer biasanya mengandung 2 – 5 jenis obat. Obat puyer banyak diresepkan untuk terapi penyakit-penyakit yang umum diderita bayi dan anak seperti batuk pilek dan diare.

Beberapa alasan dokter menuliskan resep puyer :

  1. Tidak ada produk obat jadi di pasaran yang komposisi obatnya seperti yang diinginkan. Ujung-ujungnya adalah praktek polifarmasi.
  2. Menyesuaikan dosis dengan berat badan anak.
  3. Terbatasnya produk tetes dan sirup yang diproduksi oleh pabrik obat.
  4. Biaya terapi lebih murah.

Yang perlu dicermati dalam peresepan puyer adalah, apakah pasien bayi dan anak memang sungguh-sungguh memerlukan kombinasi obat yang dipuyerkan, yaitu  hingga 3 – 5 jenis obat, bahkan tak jarang hingga 7 obat?

Tidak jarang dokter justru mencampur obat yang hanya diperlukan untuk mengurangi gejala (simpomatik) dengan obat yang menjadi penyebab penyakit (kausal). Padahal ada perbedaan signifikan dalam lama pemberian obat simptomatik dan obat kausal. Obat yang dipakai untuk meredakan gejala cukup diminum hingga gejala berkurang. Sedangkan obat untuk penyebab penyakit misalnya antibiotik harus diminum dalam jangka waktu tertentu (misalnya 3 – 5 hari atau hingga obat habis).

Misalnya untuk kasus batuk pilek pada anak, dokter mencampur dalam satu puyer, obat penyebab penyakit seperti antibiotik dengan beberapa obat pereda gejala seperti :
1. Parasetamol : antipiretik / untuk menurunkan demam
2. Pseudoefedrin : dekongestan / pelega hidung tersumbat
3. Gliseril guaiakolat (GG) : ekspektoran, memudahkan pengeluaran dahak
4. Chlorpheniramine (CTM) : antialergi
5. Kortikosteroid : untuk mengurangi peradangan
6. Luminal : obat penenang

Jika seluruh obat untuk atasi gejala tersebut dicampur dengan obat antibiotik, maka aturan pakai dan lama pemakaian obat akan mengikuti aturan pakai antibiotik, yaitu digunakan selama 3 – 5 hari. Padahal, belum tentu gejala batuk pilek yang dialami si bayi berlangsung hingga 3 – 5 hari. Apakah bayi akan terus menerus mengalami demam selama 3-5 hari sehingga harus terus meminum parasetamol? Belum tentu ! Bagaimana jika demam hanya berlangsung di hari pertama sakit, tapi parasetamol masih terus diminum selama 5 hari ke depan karena kadung dicampur dengan antibiotik? Tentu saja bayi dan anak yang paling dirugikan karena harus meminum obat-obat yang tidak perlu. Memperberat kerja hati dan ginjal, meningkatkan insiden efek samping obat dan tentu saja pemborosan biaya terapi.

Inilah yang akhirnya menyebabkan penggunaan puyer menjadi tidak rasional.

Selain itu perlu juga dipertanyakan efektivitas penggunaan 3 – 5 jenis obat simptomatik. Apakah memang perlu seluruh gejala yang dirasakan anak diatasi dengan obat? Atau cukup gejala-gejala utama yang sangat mengganggu saja yang diterapi dengan obat, seperti demam dan hidung tersumbat? Bukankah dengan meminum obat kausal, gejala pun akan berangsur-angsur hilang ?

Cermati Kualitas Puyer

Dari segi kualitas, obat puyer juga punya banyak kelemahan dimana kualitas dan keamanannya tidak terjamin. Meskipun ada kaidah-kaidah yang harus ditaati dan dilakukan apotek dalam menyiapkan obat puyer, tetapi tetap saja hal itu tidak menjamin sepenuhnya kualitas dan keamanan obat puyer.

Berbeda dengan obat buatan pabrik dimana produsen obat diwajibkan oleh pemerintah memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada setiap produk obat yang dijual. CPOB dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi hingga proses quality control. Kondisi ruangan pun sangat terkontrol, baik kelembabannya, jumlah partikel, kebersihan, dll. CPOB menjamin obat layak dikonsumsi dari segi kualitas dan keamanannya.

Kekurangan obat puyer dari segi kualitas obat meliputi :

1.Rusaknya obat akibat proses penggerusan. 
Seringkali pemilihan obat yang akan dicampur dalam puyer tidak memperhatikan aspek sifat fisika kimia obat. Misalnya, meracik obat yang disalut, obat lepas lambat, obat yang tidak stabil atau obat yang sifatnya higroskopis (menyerap air). Padahal proses penyalutan obat dan teknologi lepas lambat, punya tujuan tertentu, misalnya obat disalut karena tidak stabil dalam udara, obat mengiritasi saluran cerna, dan lain sebagainya. Jika obat-obat yang disalut kemudian diracik, itu sama artinya dengan merusak kualitas obat itu sendiri. Padahal harga obat yang dibayar pasien sudah termasuk harga teknologi penyalutan obat. Tapi kualitas obat yang diterima pasien, tidak sesuai dengan harga yang dibayar.

2.Dapat terjadi interaksi akibat pencampuran obat secara fisik
Pencampuran obat secara fisik dalam mortir dapat menimbulkan interaksi kimia fisika dari masing-masing bahan obat, yang kemungkinan besar tidak disadari oleh dokter yang meresepkan maupun Apoteker dan Asisten Apoteker yang menyiapkan puyer karena minimnya pengetahuan mengenai bahan baku obat (yang memang bukan kompetensi mereka, melainkan kompetensi apoteker yang bekerja di pabrik obat).

3.Kontaminasi oleh obat lain
Mortir / mortar terbuat dari bahan yang memiliki pori, sehingga besar kemungkinan banyak bahan obat yang terjebak dalam pori-pori mortir. Meskipun mortir sering dicuci, tidak menjamin bahan obat lain yang terjebak dalam pori-pori mortir tidak ikut tercampur dengan obat puyer yang sedang disiapkan. Apalagi jika apotek hanya menggunakan satu – dua mortir untuk segala macam obat yang dibuat puyer dan tidak menyiapkan mortir khusus untuk obat-obat yang seharusnya tidak boleh dicampur pembuatannya dengan obat lain, seperti obat-obat antibiotik betalaktam dan produk hormon. Di pabrik, hal ini tidak akan terjadi karena CPOB mensyaratkan kedua obat tersebut dibuat di fasilitas produksi yang terpisah dengan fasilitas produksi obat golongan lain.

4.Tidak Homogen
Kemungkinan obat yang dicampur tidak homogen dapat saja terjadi terutama jika obat yang digerus seluruhnya berwarna putih. Obat yang tidak homogen sangat berpengaruh pada ketepatan dosis dan efek terapi yang diharapkan.

5.Stabilitas obat tidak dapat dijamin
Selain obat sudah rusak duluan akibat penggerusan, penyimpanan obat dalam kertas pembungkus juga tidak dapat menjamin sepenuhnya obat akan stabil selama penyimpanan. Karenanya, sebaiknya obat puyer tidak disimpan untuk dipakai lagi kemudian hari.

Berbeda sekali dengan obat buatan pabrik. Di pabrik obat, obat jadi wajib memenuhi uji stabilitas selama 3 - 6 bulan sebelum obat dipasarkan. Uji stabilitas ini yang menjadi dasar penetapan umur obat (shelf life). Sehingga kebanyakan obat pabrikan yang telah dibuka,masih dapat disimpan untuk beberapa waktu.

7.Human error tinggi
Proses pembuatan puyer yang dilakukan secara manual oleh tenaga manusia memungkinkan terjadinya human error yang cukup tinggi dan bisa berakibat fatal, misalnya salah mengambil obat, salah menghitung dosis, dll.

Dosis Puyer Lebih Tepat, Benarkah ?

Meskipun dengan puyer, dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak, tapi ketepatan pemberian dosis melalui puyer sebenarnya juga patut dipertanyakan. Kok bisa?  Yup, karena pada saat puyer hasil racikan akan dibagikan di kertas pembungkus, kenyataannya serbuk tidak ditimbang terlebih dahulu. Ketepatan pembagian obat puyer hanya berdasarkan evaluasi visual asisten apoteker. Belum lagi jika pencampuran obat tidak homogen yang membuat jumlah obat dan dosis dalam tiap bungkus puyer tidak sama.

Jika Ingin Tetap Meresepkan Puyer ?

Dokter wajib memiliki dasar yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan sebelum memutuskan meresepkan obat puyer.  Supaya pasien mendapatkan manfaat puyer yang lebih besar dibandingkan kekurangan dari puyer itu sendiri seperti yang sudah dibicarakan di atas. Supaya puyer tidak justru menjadi praktek penggunaan obat yang tidak rasional.

Pertimbangkan hal berikut sebelum meresepkan obat puyer :

  1. Tepat diagnosa dan tepat obat, apakah pasien benar-benar memerlukan obat dalam jumlah banyak sehingga perlu dibuat dalam bentuk puyer.
  2. Tepat diagnosa dan tepat obat, apakah pasien memang benar-benar memerlukan obat dalam bentuk puyer. Jika di pasaran sudah tersedia obat serupa dalam bentuk tetes untuk anak, apakah obat dalam bentuk puyer tetap diperlukan? 
  3. Memahami dengan benar jenis obat apa saja yang dapat diresepkan untuk dibuat menjadi puyer.

Image dari : http://ianpokian.multiply.com/journal/item/94

February 7, 2013

Cathinone




CATHINONE


1. 2 dr 7 org yg ditangkap dlm kasus RA terindikasi mengonsumsi turunan dari cathinone, yaitu 3,4-methylenedioxy-N-methylcathinone

2. Turunan dari cathinone, yaitu 3,4-methylenedioxy-N-methylcathinone dikenal juga sebagai methylone.

3. Kandungan zat ini diakui BNN baru pertama kali ditemukan di Indonesia. Peredarannya di Indo antara ada dan tiada.

4. Cathinone, S(-)-alpha-aminopropiophenone, merupakan zat yang konfigurasi kimia dan efeknya mirip dengan amfetamin.

5. Secara alami cathinone terkandung dlm tanaman khat/gat (Catha edulis), tumbuhan semak yg bnyk tdpt di Afrika&sebagian Jazirah Arab

6. Daun khat segar mengandung cathinone lbh banyak dibandingkan daun yg dikeringkan. Sjk dulu dikonsumsi dg dikunyah, dibuat jus/diseduh

7. Cathinone sintetis berbentuk serbuk kristal putih/kecoklatan, kadang2 dikemas dlm kapsul atau tablet sbg pengganti pil ekstasi.

8. Cara penggunaan cathinone sintesis biasanya dihirup, ditelan, atau disuntikkan setelah dicampur air. (Don't try this at home !!)

9. Cathinone sintetis bukan diekstrak dari daun khat, melainkan disusun dari zat-zat prekursor.

10. Jika cathinone alami mrp stimulan potensi rendah, bahkan lebih ringan dr alkohol & tembakau, tidak demikian dengan zat sintetisnya

11. Tujuan pembuatan sintetis dari cathinone adlh memperkuat efeknya serta menghindari aturan hukum (adaaa aja akal kalo dah addict :(

12. Cathinone mrp zat stimulan sistem saraf pusat yg banyak digunakan sbg club drug/party drug, 'membuat' orang senang jadi lebih senang

13. Efek cathinone mirip amfetamin & kokain. menimbulkan rasa gembira, meningkatkan tekanan darah,kewaspadaan, serta gairah seksual.

14.Cathinone merangsang pningkatan kadar neurotransmitter (zat pengantar impuls saraf) dopamin yg mnimbulkan rasa gembira&mningkatkn tenaga

15. Efek lain adalah peningkatan kadar norepinefrin, meningkatkan detak jantung & tekanan darah.

16. Tp pengguna bisa alami halusinasi akibat peningkatan kadar serotonin. Bs diikuti dg depresi,mudah terganggu,anoreksia &kesulitan tidur

17. Akibat buruk lain adalah dehidrasi, kerusakan jaringan otot, dan gagal ginjal yang berujung pada kematian.

18. Penggunaan cathinone dlm jangka lama&berlebihan menyebabkan kerusakan sel otak. Akibatnya, orang jadi paranoid&berhalusinasi.

19. Di Indonesia, Undang-undang No.35/2009 tentang Narkotika menyatakan cathinone sebagai narkotika golongan I

20. Narkotika gol I adalah narkotika yg hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan ...

21. ... dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

22. BPOM mengatakan,bahan baku cathinone tdk mahal. Oleh sebab itu harga cathinone justru relatif lbh murah dbanding narkotika jenis lain

23. Saat ini BNN sedang berupaya membongkar jaringan pemasok cathinone. Perhatian BNN adalah karena cathinone ini ...

24. Perhatian BNN adlh krn cathinone ini memiliki daya rusak yg jauh lebih mengerikan. Selain itu, jenis ini bs jd sdng laku di pasaran

Kita tunggu saja sampe mana kelanjutan kasus ini. Sekian sharetweet tentang cathinone, semoga bermanfaat tweeps ...

Sharetweet 3 Februari 2013


image : www.beritasatu.com


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India