May 19, 2012

Suplementasi Zat Besi Pada Bayi dan Anak



Pentingnya Zat Besi

Zat besi (Fe) merupakan salah satu mineral penting yang sangat diperlukan tubuh bahkan sejak seseorang masih ada di dalam kandungan. Zat besi dengan konsentrasi tinggi terdapat dalam sel darah merah (disebut Hemoglobin). Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan Hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru dan dibawa ke sel-sel yang membutuhkannya untuk proses metabolisme glukosa, lemak dan protein menjadi energi. Selain itu, zat besi juga merupakan komponen dari enzim oksidase pemindah energi. Fungsi penting zat besi lainnya adalah berperan dalam perkembangan sistem saraf, yaitu diperlukan dalam proses mielinisasi, neurotransmitter, dendritogenesis dan metabolisme saraf.

Pada anak-anak, zat besi akan menjamin asupan oksigen ke darah yang juga akan memastikan anak selalu berenergi dan penuh konsentrasi. Zat besi juga sangat penting untuk pertumbuhan otot dan organ tubuh lainnya, baik langsung maupun bersama dengan asupan penting lainnya sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan kemampun beraktivitas. Dengan demikian, pertumbuhan anak pun akan lebih terjamin sehingga ia akan menjadi anak yang aktif di setiap perkembangannya.

Anemia Defisiensi Besi

Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah suatu keadaan dimana kadar Hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah daripada nilai normal. Untuk bayi 6 bulan hingga 6 tahun, batas normal kadar hemoglobin dalam darah adalah 11 g/dl. Sedangkan untuk anak dan remaja usia 6 hingga 14 tahun, batas normal kadar hemoglobin dalam darah adalah 12 g/dl. ADB merupakan masalah defisiensi nutrien tersering pada anak di seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia.

ADB merupakan masalah yang serius karena melibatkan populasi anak yang meliputi 30 % populasi anak total di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, prevalensi ADB pada balita di Indonesia mencapai 40,1 %. Angka itu meningkat pada hasil survei SKRT tahun 2001 dimana prevalensinya naik menjadi 48,1 % balita. SKRT 2001 juga menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0 – 6 bulan sebesar 61,3 %, bayi 6 – 12 bulan sebesar 64,8 %. Sementara itu, berdasarkan penelitian tahun 2005 di Utan Kayu Jakarta Timur, terdapat 38 % bayi usia 4 – 12 bulan yang menderita anemia. Sedangkan pada anak usia sekolah, angkanya juga memprihatinkan yaitu 1 dari 4 anak menderita anemia. Data SKRT tahun 2007 juga menunjukkan prevalensi ADB pada balita sekitar 40 – 45 %.

ADB pada bayi dan balita dapat menyebabkan gangguan pada tumbuh kembang anak yang berdampak negatif terhadap kualitas hidup anak. Kekurangan zat besi pada bayi dan balita sangat mempengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi. Juga dapat mengganggu perkembangan cabang dan sambungan antara sel saraf otak sehingga menghambat pembentukan zat neurotransmitter yang akan memperlambat proses berpikir. Selain itu, kekurangan zat besi pada anak juga dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kecerdasan, seperti gangguan pengendalian emosi, perubahan temperamen, sulit memusatkan perhatian, lambat dalam menerima dan memproses informasi, gangguan memori serta lambat dalam proses pembelajaran. Bayi dan balita yang menderita defisiensi besi lebih mudah terserang penyakit infeksi karena mikroorganisme karena kekurangan zat besi berhubungan erat dengan kerusakan kemampuan fungsional dari mekanisme kekebalan tubuh yang penting untuk menahan masuknya penyakit infeksi.

Rekomendasi IDAI

Mengingat besaran masalah yang luas dan dampak buruk ADB yang bersifat jangka panjang, sejak bulan April tahun 2011 yang lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan rekomendasi pemberian suplemen besi pada bayi dan anak. IDAI melalui Satuan Tugas Anemia Defisiensi Besi (Satgas ADB) menganjurkan suplementasi besi diberikan kepada semua anak, dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun. Mengingat Indonesia memiliki angka kejadian ADB yang tinggi, maka pemberian suplementasi besi dapat diberikan tanpa uji tapis (screening) terlebih dahulu. Hal ini ternyata telah direkomendasikan WHO sejak tahun 1998. Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) baru dilakukan sejak usia 2 tahun dan dianjurkan dilakukan setiap tahun hingga usia remaja.

Pengaturan dosis dan lama pemberian suplemen besi pada bayi dan anak yang   direkomendasikan IDAI  adalah sebagai berikut:


  • Untuk bayi berat badan lahir rendah (BBLR) atau kurang dari 2500 gram, diberikan dosis besi elemental 3 mg per kg berat badan perhari hingga maksimum 15 mg per hari, sejak usia 1 bulan hingga 2 tahun. 
  • Untuk bayi cukup bulan, diberikan dosis besi elemental 2 mg per kg berat badan per hari hingga maksimal 15 mg per hari, sejak usia 4 bulan hingga 2 tahun.
  • Untuk balita usia 2-5 tahun dan anak usia sekolah (> 5 – 12 tahun) diberikan dosis besi elemental 1 mg per kg berat badan per hari yang dibagi menjadi 2 bagian dosis yang sama dan diberikan 2 kali dalam seminggu.  Lama pemberian adalah 3 bulan berturut-turut dan diulang setiap tahun.
  • Untuk remaja laki-laki usia 12 – 18 tahun, diberikan dosis besi elemental 60 mg per hari yang dibagi menjadi 2 bagian dosis yang sama dan diberikan 2 kali dalam seminggu. Lama pemberian adalah 3 bulan berturut-turut dan diulang setiap tahun.
  • Untuk remaja perempuan usia 12 – 18 tahun, diberikan dosis besi elemental 60 mg per hari dan ditambahkan 400 mikrogram Asam Folat. Dosis tersebut dibagi menjadi 2 bagian dosis yang sama dan diberikan 2 kali dalam seminggu. Lama pemberian adalah 3 bulan berturut-turut dan diulang setiap tahun.


Referensi :
2. Anemia Defisiensi Besi Pada Bayi dan Anak, www.idai.or.id
3. Arlinda Sari Wahyuni , Anemia Defisiensi Besi Pada Balita
4. Image : www.dokteranakku.net





0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India