February 11, 2013

Menyikapi Obat Puyer




Definisi penggunaan obat yang rasional (Rational Use of medicine / RUM) oleh WHO secara jelas mempersyaratkan 5 poin yang harus dipenuhi dalam peresepan / penggunaan obat.
5 prinsip itu yaitu :
1. Tepat pasien
2. Tepat indikasi
3. Tepat obat
4. Tepat cara pemberian obat, frekuensi dan lama pemberian obat
5. Tepat biaya

Sedangkan penggunaan obat yang tidak rasional (Irrational Use of Drug / IRUD) ditandai dengan ciri-ciri :
1. Tidak ada atau kecil kemungkinan untuk memberikan manfaat.
2. Kemungkinan efek samping lebih besar dari manfaat.
3. Biaya terapi tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh.

WHO mencatat Polifarmasi adalah salah satu bentuk penggunaan obat tidak rasional / IRUD yang paling sering terjadi. Polifarmasi adalah penggunaan obat lebih dari 3 jenis obat untuk satu pasien.

Puyer Pintu Gerbang Polifarmasi

Puyer adalah bentuk polifarmasi yang paling sering terjadi dalam peresepan obat-obat untuk pasien anak karena obat puyer biasanya mengandung 2 – 5 jenis obat. Obat puyer banyak diresepkan untuk terapi penyakit-penyakit yang umum diderita bayi dan anak seperti batuk pilek dan diare.

Beberapa alasan dokter menuliskan resep puyer :

  1. Tidak ada produk obat jadi di pasaran yang komposisi obatnya seperti yang diinginkan. Ujung-ujungnya adalah praktek polifarmasi.
  2. Menyesuaikan dosis dengan berat badan anak.
  3. Terbatasnya produk tetes dan sirup yang diproduksi oleh pabrik obat.
  4. Biaya terapi lebih murah.

Yang perlu dicermati dalam peresepan puyer adalah, apakah pasien bayi dan anak memang sungguh-sungguh memerlukan kombinasi obat yang dipuyerkan, yaitu  hingga 3 – 5 jenis obat, bahkan tak jarang hingga 7 obat?

Tidak jarang dokter justru mencampur obat yang hanya diperlukan untuk mengurangi gejala (simpomatik) dengan obat yang menjadi penyebab penyakit (kausal). Padahal ada perbedaan signifikan dalam lama pemberian obat simptomatik dan obat kausal. Obat yang dipakai untuk meredakan gejala cukup diminum hingga gejala berkurang. Sedangkan obat untuk penyebab penyakit misalnya antibiotik harus diminum dalam jangka waktu tertentu (misalnya 3 – 5 hari atau hingga obat habis).

Misalnya untuk kasus batuk pilek pada anak, dokter mencampur dalam satu puyer, obat penyebab penyakit seperti antibiotik dengan beberapa obat pereda gejala seperti :
1. Parasetamol : antipiretik / untuk menurunkan demam
2. Pseudoefedrin : dekongestan / pelega hidung tersumbat
3. Gliseril guaiakolat (GG) : ekspektoran, memudahkan pengeluaran dahak
4. Chlorpheniramine (CTM) : antialergi
5. Kortikosteroid : untuk mengurangi peradangan
6. Luminal : obat penenang

Jika seluruh obat untuk atasi gejala tersebut dicampur dengan obat antibiotik, maka aturan pakai dan lama pemakaian obat akan mengikuti aturan pakai antibiotik, yaitu digunakan selama 3 – 5 hari. Padahal, belum tentu gejala batuk pilek yang dialami si bayi berlangsung hingga 3 – 5 hari. Apakah bayi akan terus menerus mengalami demam selama 3-5 hari sehingga harus terus meminum parasetamol? Belum tentu ! Bagaimana jika demam hanya berlangsung di hari pertama sakit, tapi parasetamol masih terus diminum selama 5 hari ke depan karena kadung dicampur dengan antibiotik? Tentu saja bayi dan anak yang paling dirugikan karena harus meminum obat-obat yang tidak perlu. Memperberat kerja hati dan ginjal, meningkatkan insiden efek samping obat dan tentu saja pemborosan biaya terapi.

Inilah yang akhirnya menyebabkan penggunaan puyer menjadi tidak rasional.

Selain itu perlu juga dipertanyakan efektivitas penggunaan 3 – 5 jenis obat simptomatik. Apakah memang perlu seluruh gejala yang dirasakan anak diatasi dengan obat? Atau cukup gejala-gejala utama yang sangat mengganggu saja yang diterapi dengan obat, seperti demam dan hidung tersumbat? Bukankah dengan meminum obat kausal, gejala pun akan berangsur-angsur hilang ?

Cermati Kualitas Puyer

Dari segi kualitas, obat puyer juga punya banyak kelemahan dimana kualitas dan keamanannya tidak terjamin. Meskipun ada kaidah-kaidah yang harus ditaati dan dilakukan apotek dalam menyiapkan obat puyer, tetapi tetap saja hal itu tidak menjamin sepenuhnya kualitas dan keamanan obat puyer.

Berbeda dengan obat buatan pabrik dimana produsen obat diwajibkan oleh pemerintah memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada setiap produk obat yang dijual. CPOB dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi hingga proses quality control. Kondisi ruangan pun sangat terkontrol, baik kelembabannya, jumlah partikel, kebersihan, dll. CPOB menjamin obat layak dikonsumsi dari segi kualitas dan keamanannya.

Kekurangan obat puyer dari segi kualitas obat meliputi :

1.Rusaknya obat akibat proses penggerusan. 
Seringkali pemilihan obat yang akan dicampur dalam puyer tidak memperhatikan aspek sifat fisika kimia obat. Misalnya, meracik obat yang disalut, obat lepas lambat, obat yang tidak stabil atau obat yang sifatnya higroskopis (menyerap air). Padahal proses penyalutan obat dan teknologi lepas lambat, punya tujuan tertentu, misalnya obat disalut karena tidak stabil dalam udara, obat mengiritasi saluran cerna, dan lain sebagainya. Jika obat-obat yang disalut kemudian diracik, itu sama artinya dengan merusak kualitas obat itu sendiri. Padahal harga obat yang dibayar pasien sudah termasuk harga teknologi penyalutan obat. Tapi kualitas obat yang diterima pasien, tidak sesuai dengan harga yang dibayar.

2.Dapat terjadi interaksi akibat pencampuran obat secara fisik
Pencampuran obat secara fisik dalam mortir dapat menimbulkan interaksi kimia fisika dari masing-masing bahan obat, yang kemungkinan besar tidak disadari oleh dokter yang meresepkan maupun Apoteker dan Asisten Apoteker yang menyiapkan puyer karena minimnya pengetahuan mengenai bahan baku obat (yang memang bukan kompetensi mereka, melainkan kompetensi apoteker yang bekerja di pabrik obat).

3.Kontaminasi oleh obat lain
Mortir / mortar terbuat dari bahan yang memiliki pori, sehingga besar kemungkinan banyak bahan obat yang terjebak dalam pori-pori mortir. Meskipun mortir sering dicuci, tidak menjamin bahan obat lain yang terjebak dalam pori-pori mortir tidak ikut tercampur dengan obat puyer yang sedang disiapkan. Apalagi jika apotek hanya menggunakan satu – dua mortir untuk segala macam obat yang dibuat puyer dan tidak menyiapkan mortir khusus untuk obat-obat yang seharusnya tidak boleh dicampur pembuatannya dengan obat lain, seperti obat-obat antibiotik betalaktam dan produk hormon. Di pabrik, hal ini tidak akan terjadi karena CPOB mensyaratkan kedua obat tersebut dibuat di fasilitas produksi yang terpisah dengan fasilitas produksi obat golongan lain.

4.Tidak Homogen
Kemungkinan obat yang dicampur tidak homogen dapat saja terjadi terutama jika obat yang digerus seluruhnya berwarna putih. Obat yang tidak homogen sangat berpengaruh pada ketepatan dosis dan efek terapi yang diharapkan.

5.Stabilitas obat tidak dapat dijamin
Selain obat sudah rusak duluan akibat penggerusan, penyimpanan obat dalam kertas pembungkus juga tidak dapat menjamin sepenuhnya obat akan stabil selama penyimpanan. Karenanya, sebaiknya obat puyer tidak disimpan untuk dipakai lagi kemudian hari.

Berbeda sekali dengan obat buatan pabrik. Di pabrik obat, obat jadi wajib memenuhi uji stabilitas selama 3 - 6 bulan sebelum obat dipasarkan. Uji stabilitas ini yang menjadi dasar penetapan umur obat (shelf life). Sehingga kebanyakan obat pabrikan yang telah dibuka,masih dapat disimpan untuk beberapa waktu.

7.Human error tinggi
Proses pembuatan puyer yang dilakukan secara manual oleh tenaga manusia memungkinkan terjadinya human error yang cukup tinggi dan bisa berakibat fatal, misalnya salah mengambil obat, salah menghitung dosis, dll.

Dosis Puyer Lebih Tepat, Benarkah ?

Meskipun dengan puyer, dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak, tapi ketepatan pemberian dosis melalui puyer sebenarnya juga patut dipertanyakan. Kok bisa?  Yup, karena pada saat puyer hasil racikan akan dibagikan di kertas pembungkus, kenyataannya serbuk tidak ditimbang terlebih dahulu. Ketepatan pembagian obat puyer hanya berdasarkan evaluasi visual asisten apoteker. Belum lagi jika pencampuran obat tidak homogen yang membuat jumlah obat dan dosis dalam tiap bungkus puyer tidak sama.

Jika Ingin Tetap Meresepkan Puyer ?

Dokter wajib memiliki dasar yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan sebelum memutuskan meresepkan obat puyer.  Supaya pasien mendapatkan manfaat puyer yang lebih besar dibandingkan kekurangan dari puyer itu sendiri seperti yang sudah dibicarakan di atas. Supaya puyer tidak justru menjadi praktek penggunaan obat yang tidak rasional.

Pertimbangkan hal berikut sebelum meresepkan obat puyer :

  1. Tepat diagnosa dan tepat obat, apakah pasien benar-benar memerlukan obat dalam jumlah banyak sehingga perlu dibuat dalam bentuk puyer.
  2. Tepat diagnosa dan tepat obat, apakah pasien memang benar-benar memerlukan obat dalam bentuk puyer. Jika di pasaran sudah tersedia obat serupa dalam bentuk tetes untuk anak, apakah obat dalam bentuk puyer tetap diperlukan? 
  3. Memahami dengan benar jenis obat apa saja yang dapat diresepkan untuk dibuat menjadi puyer.

Image dari : http://ianpokian.multiply.com/journal/item/94

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India